Narutoholic

Narutoholic

Ada yang salah pada Kurikulum pendidikan Kita

6/29/13

Pendidikan adalah hal yang sangat penting, melalui jalur pendidikanlah seseorang bisa merubah strata sosial dan kualitas hidupnya.

Pendidikan bisa diperoleh melalui jalur formal dan informal, melalui jalur formal seperti di sekolah dan perguruan tinggi, sedangkan jalur informal seperti di lingkungan keluarga dan lingkungan sosial.

Ada yang salah dalam pendidikan formal kita, lihatlah siswanya hanya diajarkan buku tulis dan teori yang sebenarnya sangat sedikit digunakan dalam menunjang hidupnya. Setiap siswa diajarkan rumus matematika dan fisika yang rumit yang hanya akan diperlukan oleh calon-calon ilmwuan dan peneliti.

Sementara itu di kehidupan nyata yang diperlukan adalah kreativitas, cara bergaul, bersosialisasi dan bersaing dalam memperoleh pekerjaan. Keinginan yang kuat, kerja keras dan disiplinlah yang dibutuhkan agar sukses menjalani kehidupan.

Sementara disekolah siswa hanya diajarkan untuk menghapal teori, mengerjakan PR dan berusaha untuk tidak salah di mata guru mereka sesuai dengan karakter sang guru. Di sekolah jarang sekali diajarkan mengenai kewirausahaan dan bisnis, cara menjual, cara meningkatkan nilai jual sebuah produk dan hal-hal yang mengenai kegiatan ekonomi yang menunjang hidup.

Di masa sekarang saat persaingan kerja sangat tinggi, perlu kita menanamkan jiwa wirausaha sejak dini, bagaimana membentuk mental pantang menyerah bagi anak, jiwa dagang pada anak dan skill tertentu bagi anak sehingga saat mereka tamat dari sekolah mereka, mereka tidak frustasi dengan keadaan saat mereka tidak memperoleh pekerjaan.

Kita sebagai orang tua juga perlu merubah minset kita bagaimana cara mendidik anak supaya tidak mempunyai mental pekerja, tetapi memiliki mental yang siap juang dalam segala keadaan.

Kerja Cerdas atau Kerja Keras, Mana yang lebih penting ?

Melihat banyaknya orang yang belakangan ini memperdebatkan mengenai kerja cerdas dan kerja keras, maka hal ini sepertinya penting untuk dipikirkan.

Sebagian orang begitu tertarik dan menggebu-gebu untuk mengatakan bahwa bekerja cerdas adalah yang paling penting dan itu adalah cara yang paling efektif untuk mencapai kesuksesan. Dengan bekerja cerdas maka sukses akan mudah diraih.

Sebagian orang lagi mengatakan bahwa kunci sukses dalam sebuah pekerjaan adalah dengan bekerja keras dan banting tulang. Dan mengatakan bahwa kesuksesan tidak akan diraih bila tidak bekerja keras dengan melebihi cara kerja orang-orang awam.

Kalau menurut saya bekerja cerdas, tanpa diikuti dengan kerja keras, maka tidak akan berguna, memangya kerja cerdas apa yang tidak butuh proses, disiplin dan penuh perjuangan. Memangnya ada kerja yang santai-santai kemudian bisa berhasil dengan mudah. 

Begitu juga dengan bekerja keras, bekerja keras namun tidak tahu apa prospeknya ke depan, tentu saja adalah melakukan sesuatu yang kemungkinan akan tidak maju-maju. Bekerja keras, hanya memakai tenaga otot, maka selamanya akan menjadi anak buah.

Bekerja keras dan bekerja cerdas bukanlah cara kerja yang dipisahkan dengan membedakan keunggulan masing-masing. Akan lebih baik bila antara kerja cerdas dan kerja keras disatukan sehingga menjadi sebuah motor penggerak untuk mencapai kesuksesan.

Jadi mulai sekarang, jika mendengar perbedaan antara kerja keras dan kerja cerdas, sebaiknya mulailah berpikir dan tidak mudah terkicuh oleh ucapan orang mengenai keunggulan kerja cerdas dan kerja keras.

Pergeseran Kualifikasi Pekerjaan

Telah terjadi pergeseran dalam kualifiasi pekerjaan pada masa kini, dahulu di era 80-an gelar akademik sangat diagung-agungkan dan menjadi modal yang sangat penting untuk mencari pekerjaan.

Gelar pendidikan pada masa dulu merupakan hal yang sangat mahal dan memiliki prestise yang tinggi, dengan gelar Insinyur (Ir) seseorang akan mudah mendapatkan pekerjaan dan mendapat kehormatan yang tinggi di masyarakat.

Ternyata pada masa kini banyak hal yang telah berubah, terutama dalam hal dunia pekerjaan. Gelar akademik saat ini hanya dianggap sebagai formalitas saja tidak menjadi tolak ukur pekerjaan dan kesuksesan seseorang.

Sadarkah kita saat ini sudah banyak orang yang gelar akademiknya tinggi, namun masih saja pengangguran ? atau tukang fotocopi di kantor yang memiliki gelar S1 ? 

Banyak orang tua yang menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi hanya berakhir pada seorang sales yang  menjual sesuatu kesana kemari. Orang tua pasti kecewa apalagi sang anak yang berjuang untuk mendapatkan ijasah, namun pekerjaan yang diimpikan tidaklah sesuai dengan keinginan.

Dunia kerja saat ini, tidaklah mengharapkan gelar sebagai modal utama, akan tetapi keahlian. Gelar yang tinggi namun kurang memberikan kontribusi hanya akan menjadikan beban bagi perusahaan.

Kesuksesan sepertinya saat ini bisa dicapai dengan mudah apabila memiliki keahlian, pergeseran cara kerja manusia saat ini lebih ke arah professional sepeti pemain sepakbola, atlet dan wirausaha. Lihatlah para pemain bola yang digaji millayan per musim atau atlet yang digaji dari klun ditambah lagi menjadi bintang iklan.

Atau menjadi pemusik yang dibayar 20 juta persekali tampil tentu saja mengalahkan gaji karyawan yang rata-rata digaji 2 juta perbulannya.

Dengan memiliki keahlian tertentu, maka seseorang akan dibayar tinggi dan dengan mudah memperoleh kemakmuran. Oleh karena itu sebagai orang tua, seharusnya kita mulai paham terhadap pergeseran dunia kerja yang terjadi saat ini, dan mulai berpikir bagaimana cara mendidik sang anak agar masa depannya menjadi lebih baik.

terima kasih

Pahlawan tanpa Tanda Jasa. Benarkah ?

Seperti keterangan dalam judul blog ini, Think out of the box (cara berpikir diluar kebiasaan). Maka tulisan kali ini memang agak membuat sebagian kalangan akan menghujatnya.

Kali ini yang dibahas mengenai gelar 'pahlawan tanpa tanda jasa' yang diberikan kepada Guru. Bukan untuk merendahkan sebuah profesi, akan tetapi memberikan fakta dan realitas agar tidak semua orang mudah mengamini sesuatu tanpa berpikir kritis.

Pahlawan tanpa tanda jasa, di era seperti ini, mungkin sangat sedikit jumlahnya, bisa jadi 1 dari seribu keadaan yang masih ada. Banyak guru sekarang ini yang tidak lagi dapat diberi gelar pahlawan tanpa tanda jasa dikarenakan :

- Kesejahteraan guru sudah merupakan hal yang sangat diperhatikan saat ini dengan alokasi APBN 20 % untuk sektor pendidikan.

- Adanya sertifikasi untuk guru yang tentunya meningkatkan kesejahteraan mereka

- Banyaknya guru yang menjual buku seperti LKS (lembar kerja siswa) dan les-les yang merupakan pemasukan merea.

Memang mendapatkan penghasilan tambahan adalah hak setiap orang termasuk guru, namun menjadi pahlawan tanpa tanda jasa adalah sangat berat.


Menjadi pahlawan tanpa tanda jasa berarti siap bekerja dengan iklas, memangnya siapkah seseorang bekerja tanpa digaji ? atau bekerja demi tujuan kemanusiaan ?. Mungkin banyak orang akan enggan bekerja hanya untuk kemanusiaan tanpa apapun  yang didapatkannya dari pekerjaan itu.

Untuk itu pahlawan tanpa tanda jasa, sebenarnya adalah bekerja tanpa mengharapkan imbalan atau pamrih, jadi sangatlah sulit dan mungkin hanya orang yang benar-benar tuluslah yang bisa mengerjakannya. Maka gelar pahlawan tanpa tanda jasa perlu kita pertimbangkan lagi

Haruskah menjual diri demi uang?

6/28/13

Aspek jati diri, tentu harus menjadi sebuah pemikiran sebelum melakukan sesuatu, apa tujuan hidup, siapa saya di dalam semesta ini dan apa tujuan saya terlahir dan berada di dunia ini.
Layakkah berbuat begini dan apa sebenarnya yang bisa dilakukan untuk bisa bertahan hidup dan menjalani kehidupan di dunia ini.

Sebagian kecil orang telah melupakan jati diri dan kehilangan martabatnya dengan berbuat sesuatu yang sebenarnya sangat hina yaitu dengan menjual diri. Kemiskinan menjadi alasan untuk berbuat demikian dan masalah menjadi pembenaran untuk berbuat demikian.

Sekian persen orang di dunia hidup dengan cara menjual diri, melupakan Tuhannya, melupakan moral mereka dan menjadikan dirinya sebuah benda yang bisa diperjual belikan kepada orang yang berduit.
Hidup memanglah sulit dan bisa dikatakan sangat sulit, hanya saja apakah tidak ada jalan lain selain menjual Tuhan dan penciptaannya hanya karena untuk bertahan hidup. Begitu miskinkah Tuhan hingga rela menjual hasil ciptaannya yang sempurna ?

Atau begitu sulitkah kehidupan sehingga tak ada lagi solusi lain yang bisa ditempuh selain menjual jiwa yang telah diberikannya kepada kita. Begitu berhargakah uang ratusan ribu atau jutaan sekalipun sehingga bisa membeli ajaran yang Dia ajarkan melalui nabiNya?
Ataukah Tuhan yang maha baik hanya berlaku bagi burung yang bangun dipagi hari dengan perut kosong dan tidur di malam hari dengan perut kenyang setelah seharian kesana-kemari mencari makanan ?.

Kita diberi pikiran dan diberi kebebasan untuk bebas memilih untuk bekerja keras atau malas-malasan dan diberi pikiran negatif dan positif, jadi gunakanlah itu untuk menjalani hidup dihadapanNya.

Sebagai Perokok Saya Malu Membaca Ini



Sunggung memang saya malu saat membaca ini, ini tentang sebuah penelitian yang dilakukan oleh negara barat sana, saya lupa nama negaranya. Isi penelitiannya kurang lebih mengatakan ternyata penduduk negara berkembang seperti Indonesia pendapatannya sebesar 30% digunakan untuk membeli rokok.

Saya tertegun membacanya, dan berusaha mengamati sekeliling saya, dan itu bisa dikatakan benar. Bahwa benar lingkungan saya ternyata prianya rata-rata perokok dan di tempat kerja saya 8 dari 10 karyawannya ternyata perokok.

Di semua profesi pekerjaan, mulai dari buruh bangunan hingga pejabat tinggi dan pengusaha ternyata perokok dan penghasilan masyarakat banyak habis untuk membeli rokok daripada untuk kebutuhan lain seperti kesehatan dan asuransi. Sementara negara berkembang telah memposkan sebagian penghasilan mereka untuk investasi dan asuransi.

Ternyata rokok menjadi kebutuhan pokok di dalam masyarakat Indonesia setelah beras. Miris memang, tapi itulah potret bangsa kita. Banyak upaya telah dilakukan, mulai dari pelarangan iklan rokok di media massa, tulisan merokok itu merusak kesehatan di bungkus rokok dan larangan merokok di tempat umum dengan payung hukum Perda.

Pajak rokok pun ditingkatkan agar masyarakat merasa berat untuk merokok, namun cara itu tetap saja kurang efektif karena ternyata permintaan terhadap rokok terus meningkat dan tak pernah mengalami penurunan.

Itulah keadaan masyarakat kita saat ini, kecanduan terhadap rokok tenyata sudah sangat akut dan sulit untuk disembuhkan, 30% persen dari penghasilan digunakan untuk membeli sesuatu yang merusak kesehatan. Racun nikotin, tar dan lain-lain yang merupakan racun dihirup setiap hari, mulai dari satu bungkus perhari atau beberapa bungkus dimana satu bungkus rokok S****** saat ini berharga sekitar 13 ribu.

Jadi dalam satu hari bisa menghabiskan Rp.26 ribu dan bila dikalikan 30 hari, maka nilainya sekitar Rp.700 ribu. Dimana standar gaji bersih karyawan adalah sekitar 2 juta, maka penelitian negara tersebut bisa dikatakan benar.

Memang sangat sulit untuk berhenti merokok, rokok memiliki zat yang bisa membuat otak rileks, berhenti merokok mungkin bisa dilakukan saat pikiran sedang tenang, namun saat pikiran sedang stres rokoklah yang bisa mengurangi stres itu. 

Tapi dengan upaya terus-menerus, maka bisa dikurangi dan perlu perenungan bagi kita para perokok, berapa yang kita habiskan dalam sebulan hanya untuk rokok ? dan apa manfaatnya? Bagaimana jika pengeluaran untuk rokok itu kita investasikan untuk masa depan atau pengeluaran itu kita poskan untuk asuransi kesehatan untuk masa depan. Trims

Beberapa orang terlahir dengan Kaya, sebagian lagi harus mengusahakannya

6/27/13



Sungguh enak terlahir dari dalam keluarga yang kaya, begitu lahir harta keluarga menjadi hak warisnya tanpa berbuat apa-apa. Fasilitas milik orang tua tinggal pakai, tanpa kerja keras dan keringat bisa didapat dengan mudah.Hidup hanya menikmati hasil tanpa harus berupaya kerja keras untuk memperolehnya.

Gelar “tuan muda” atau pangeran secara otomatis menempel pada dirinya, dan penghormatan dari orang-orang sekelilingnya menjadi santapan yang lezat saat menjalani kehidupan. Strata sosial yang menjadi perebutan dan perjuangan manusia dengan mudah bisa diperoleh tanpa harus melakukan apa-apa.

Memang terlahir dalam keluarga mana, bukanlah pilihan bagi kita dalam hadirnya manusia di dunia, konon katanya kelahiran seseorang sudah diatur oleh sang Penciptanya dan merupakan takdir yang tidak bisa diubah.

Pernahkah terpikir oleh manusia apa sebenarnya rencana-rencana Tuhan menempatkan manusia pada posisi yang berbeda-beda sejak kelahirannya ? Saat seseorang dari kalangan bawah harus berjuang mati-matian untuk merubah strata status sosialnya, sementara sebagian lagi memperolehnya dengan sangat mudah ?

Memang sulit untuk menjawabnya karena hal itu merupakan rencana dari sang Pencipta yang menciptakan dunia dan kehidupan ini.

Korupsimu Kami yang Membayarnya



Korupsi adalah momok yang menjijikkan dan paling dicemooh saat ini. Namun dalam hati mungkin banyak orang yang sebenarnya juga ingin melakukan korupsi, hanya saja mereka tidak bisa melakukannya karena tidak punya kesempatan untuk melakukan korupsi.

Ternyata dampak korupsi tidak hanya terjadi pada kegagalan proyek yang dikorupsi atau kegagalan untuk mencapai tujuan seperti yang diharapakan dengan keluarnya uang negara, namun korupsi sebenarnya juga membuat “dampak sistemik” dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Mental yang rusak, persaingan tidak sehat, ketidakpercayaan terhadap sistem, dan mungkin keputusasaan adalah berbagai dampak dari korupsi, dan masih banyak dampak lainnya.

Dan yang membayar semua kegiatan korupsi itu adalah masyarakat. Kita tahu untuk menerbitkan ijin usaha tentu memiliki banyak persyaratan yang harus dipenuhi, seperti SIUP (surat ijin Usaha), SITU, (Surat ijin Tempat usaha), HO, AMDAL, dll, jika semua ini diurus dengan cara sesuai prosedur, maka izin tersebut akan keluar beberapa tahun lagi, tapi jika diurus dengan tambahan amplop pelicin, maka akan cepat keluar.

Nah biaya-biaya yang menjadi bengkak saat pengurusan atau perpanjangan tadi, tetap dihitung oleh pelaku usaha yang nantinya menjadi biaya produksi, nah barang yang dihasilkan juga menjadi lebih mahal saat dibeli konsumen.

Korupsi adalah perbuatan curang dan merusak semua segi tatanan kehidupan, namun banyak orang yang memanfaatkan cara-cara itu untuk menjalani hidupnya, untuk itu kita harus terus melakukan perlawanan untuk menghilangkan korupsi sebisanya. Tidak bisa berbuat paling tidak kita mencemooh dan tidak bisa mencemooh paling tidak kita bisa mendoakan agar korupsi bisa habis dari kehidupan negara kita.

Salam

Berapakah gaji bersihku sebenarnya ?

6/26/13

Bicara gaji pernahkah anda berpikir berapa sebenarnya nilai bersih yang kita terima, dan berapa sebenarnya yang murni kita belanjakan untuk membeli sesuatu atau membayar jasa yang kita nikmati.

Karena sebenarnya gaji yang kita terima masih harus dikurangi oleh PAJAK saat kita melakukan pembayaran terhadap obyek yang kita beli atau kita nikmati dalam pelayanan jasa yang kita terima.

Saat kita membeli sesuatu concohnya rokok atau bubuk detergen yang sederhana ternyata uang yang kita bayarkan bukan hanya terhadap rokok / deterjen tadi yang kita bayar ternyata kita juga membayar untuk :
- Pajak pertambahan nilai yang dari barang yang kita beli.
- pajak penghasilan perusahaan yang memproduksi rokok/deterjen tersebut yang menjadi tambahan biaya produksi sehingga rokok/deterjen tersebut menjadi lebih mahal saat kita beli.
- ijin usaha dari perusahaan tersebut yang masuk ke kas pemerintah
-  retribusi-retribusi oleh dinas saat barang tersebut masuk ke suatu daerah

Yang tentunya menambah harga barang yang semula tadi murah menjadi lebih mahal dari yang seharusnya.

Kembali ke permasalahan awal tadi, jadi sebenarnya gaji yang kita terima lebih kecil nilainya dari yang tertera pada angka tersebut, karena lebih dari setengahnya sebenarnya telah hilang.

Ingatkah saudara apa yang memicu terjadinya revolusi Amerika ? sejarahnya dimulai saat negara Inggris menjajah koloni Amerika dan menetapkan berbagai macam pajak yang memberatkan warga jajahannya dan memicu terjadinya revolusi Amerika.

Pajak adalah masalahnya, berbagai macam pajak secara langsung membuat biaya hidup semakin tinggi, pajak yang seharusnya membuat distribusi kekayaan menjadi seimbang dan untuk membiayai pembangunan ternyata membuat masyarakat kecil menjadi terbebani.

Sadarkah anda bahwa gaji anda tidak sebesar yang anda bayangkan seperti dulu ?


Alasan Mengapa saya berhak mendapatkan subsidi BBM

Kenaikan BBM adalah momok yang membuat saya menjadi panik panik karena tentu saja kenaikan BBM akan membuat semua pengeluaran bengkak, mulai dari urusan dapur, listrik, spare part, ongkos kendaraan umum dan banyak lagi hal lainnya hingga harga cuci motor juga pasti naik.

Makanya  saya sangat muak jika melihat menteri yang katanya pintar tapi mengatakan bahwa kenaikan harga BBM tidak berpengaruh terhadap masyarakat. Gobloknya dia pasti tidak ketulungan, masa BBM naik tidak berpengaruh terhadap masyarakat. Memang pikirnya ngangkut sembako gak pake bensin, emangnya pikirnya ngangkut barang-barang pakai kantung ajaib Doraemon?

Parahnya lagi dia bilang bahwa subsidi BBM salah sasaran, dan ia mengatakan hal itu didepan ratusan juta rakyat Indonesia. Memanggnya subsidi bersumber dari mana, sumbernya kan dari APBN, dan APBN kan pemasukannya berasal dari pajak dan saya adalah pembayar pajak.

Saya membayar pajak dari hal-hal berikut :
1.       Pajak Kendaraan Bermotor
2.       Pajak Penghasilan saat gajian
3.       Pajak saat mebeli rokok
4.       Pajak saat makan di rumah makan
5.       Pajak saat membeli Deterjen
6.       Pajak Membeli alat elektronik
7.       Pajak Bumi Bangunan
8.       Pajak saat membayar Listrik
9.       Pajak saat membeli ban motor
10.   Dan masih banyak pajak-pajak lain yang jumlahnya saya lupa.

Saat saya telah membayar pajak, maka saya berhak untuk mendapatkan subsidi, karena pada dasarnya itu adalah uang saya yang saya setorkan kepada negara dan saya menerimanya kembali dalam bentuk subsidi. 

Karena pajak telah menaikkan biaya hidupku dan gajiku hanya kuterima setengah dari nilai yang kuterima. Pajak telah mengambil setengah dari penghasilan kotorku dan ia hilang saat diriku membelanjakannya. 

Setiap orang yang membayar pajak, maka ia berhak untuk mendapatkan subsidi, karena ia membayar dan ia berhak untuk menerima kembali apapun bentuknya itu, apa itu infrastruktur yang baik ataupun bentuk subsidi apalagi BBM. Karena ia sangat berpengaruh terhadap setiap segi ekonomi tidak perduli ia kaya atau miskin.

Karena BBM berpengaruh terhadap biaya produksi, dan distribusi, tidak satu aspek yang mengalami kenaikan, tapi semua aspek, karena BBM adalah objek vital dalam setiap aspek kehidupan.
Jika yang naik hanya cabe, tanpa makan cabe manusia juga bisa hidup normal, tapi kalau BBM naik semuanya akan naik.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

kategori

Total Pageviews

Hitstat Counter

Pages